DZIKIR JAMA’I KARESIDENAN KEDIRI CATURWULAN KE-14
Kegiatan Dzikir Jama’i Karesidenan Kediri Caturwulan ke-14 berlangsung dengan khidmat di Pesantren Al Ikhlas Al Islami, Karangrejo, Tulungagung pada Ahad, 3 Mei 2026 pukul 08.00 WIB hingga selesai. Acara ini dihadiri oleh para ulama, santri, serta masyarakat dari berbagai daerah yang datang dengan penuh antusias untuk mengikuti rangkaian dzikir dan tausiyah.
Suasana sejak pagi sudah dipenuhi jamaah yang memadati area pesantren. Lantunan sholawat dan dzikir yang menggema menambah kekhusyukan acara, menciptakan suasana yang penuh ketenangan dan keberkahan.
Dalam sambutannya, Bapak Kapolsek Karangrejo menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan dzikir jama’i ini. Beliau juga berpesan kepada seluruh jamaah agar senantiasa mentaati peraturan lalu lintas demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, serta menjaga ketertiban selama mengikuti kegiatan.
Selanjutnya, Bapak Susilo selaku pengurus Pondok Pesantren Al Ikhlas turut memberikan pesan agar seluruh jamaah senantiasa memperbanyak dzikir di manapun berada sebagai bentuk kedekatan kepada Allah SWT, serta menjadikan dzikir sebagai amalan sehari-hari.
Acara pembukaan dzikir jama’i dipimpin oleh Kyai Lukman Hakim, selaku pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Azhaar Tulungagung. Dengan penuh khidmat, beliau memimpin rangkaian pembacaan dzikir yang diikuti oleh seluruh jamaah.
Kemudian acara inti yaitu dzikir jama’i dipimpin oleh Kyai Hadlirin dari Kras, Kediri. Seluruh jamaah larut dalam lantunan dzikir, membaca wirid secara bersama-sama dengan penuh kekhusyukan, harap, dan kerendahan hati kepada Allah SWT.
Dalam sesi tausiyah, Bapak H. Baidhowi dari Kauman Tulungagung menyampaikan pesan tentang tiga golongan manusia yang akan menangis di hari kiamat, yaitu:
1. Orang yang matanya menangis karena takut kepada Allah SWT, seperti orang yang menjaga sholat wajib, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak dzikir sebagai bentuk komunikasi dengan Allah SWT.
2. Orang yang menjaga pandangan dari kemaksiatan, yaitu mereka yang mampu menahan diri dari hal-hal yang melanggar syariat.
3. Orang yang berjaga di jalan Allah, yang saat ini dapat dimaknai sebagai kesungguhan dalam berdakwah dan mensyiarkan agama Islam.
Beliau juga menekankan pentingnya mengingat kematian, karena dengan mengingat kematian seseorang akan terdorong untuk:
· segera bertaubat,
· menerima segala ketentuan Allah SWT,
· dan meningkatkan semangat dalam beribadah.
Pesan ini menjadi pengingat agar umat Islam tidak termasuk golongan yang menyesal di hari akhir.
Selanjutnya, KH. Mansur Farohi, pengasuh Pondok Pesantren Urwatul Wustqo dari Ngantang, Malang, menyampaikan tausiyah yang menyejukkan hati. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Beliau juga menegaskan bahwa niat dalam setiap amal harus diluruskan, termasuk dalam menghadiri majelis dzikir ini, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, bukan karena hal duniawi. Dengan niat yang benar, diharapkan seluruh amal yang dilakukan akan dicatat sebagai amal sholih dan mendapatkan keberkahan.
Selain itu, beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga istiqomah dalam berdzikir, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menjadikan majelis dzikir sebagai sarana memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kegiatan dzikir jama’i berakhir pada pukul 11.45 WIB dan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh harap agar seluruh jamaah mendapatkan keberkahan, keselamatan, serta ridho Allah SWT. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat keimanan, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan semangat dalam menjalankan ajaran Islam di tengah kehidupan sehari-hari.
SMP Islam Al Azhaar Tulungagung