Sarasehan Kitab Jala’ul Afkar min Kalami Sayyidil Basyar
Hari Kamis 10 September 2026 Lembaga Al Azhaar Tulungagung mengadakan acara Sarasehan Kitab Jala’ul
Afkar min Kalami Sayyidil Basyar bersama Prof. Dr. Alwi Bin Shihab
Memasuki bulan Rabiul Awal, bulan yang
penuh dengan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, menjadi momentum bagi kita untuk
semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menumbuhkan rasa cinta kepada
Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Semoga di bulan yang mulia ini kita senantiasa
mendapatkan limpahan rezeki, keberkahan, serta syafaat Rasulullah ﷺ.
Dalam kajian kali ini, disampaikan sebuah
pengingat bahwa harapan dan angan-angan seorang hamba kepada Allah SWT tidaklah
jauh. Allah adalah Al-Karim, Dzat Yang Maha Pemurah, yang memberikan karunia
kepada hamba-Nya. Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak pernah berhenti
berdoa dan berharap kepada Allah. Ketika seorang hamba mengangkat kedua
tangannya untuk memohon kepada-Nya, ia sedang menunjukkan ketergantungannya
kepada Allah dan kedekatannya sebagai seorang hamba.
Sebelum memasuki pembahasan kitab, kajian
diawali dengan pembacaan hadis Musalsal Alawiyah:
Ø الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang menyayangi akan disayangi
oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya
yang ada di langit akan menyayangi kalian.”
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa
kasih sayang bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan untuk
mendapatkan kasih sayang Allah SWT.
Menyelami Jala’ul Afkar
Kajian kemudian dilanjutkan dengan membaca
kitab Jala’ul Afkar min Kalami Sayyidil Basyar karya KH. Muhammad Ihya’
Ulumiddin. Kitab ini merupakan kumpulan hadis yang berkaitan dengan pendidikan
Islam dan wasiat keimanan. Dalam mukadimahnya, penulis menjelaskan bahwa
hadis-hadis tersebut dikumpulkan agar dapat dihafalkan, dipahami, sekaligus
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan dimulai dari halaman 5, dengan
hadis pertama tentang meluruskan niat. Rasulullah ﷺ bersabda:
Ø إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada
niat.”
Hadis ini mengajarkan bahwa sebelum
melakukan suatu amal, seseorang perlu meluruskan niatnya terlebih dahulu. Amal
yang secara lahir terlihat baik belum tentu memiliki nilai yang sama di hadapan
Allah apabila niat di baliknya berbeda. Dalam kitab dijelaskan bahwa seseorang
mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada hadis
kedua tentang arwah yang merupakan bala tentara. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa
roh-roh yang saling mengenal akan cenderung saling akrab, sedangkan roh-roh
yang tidak saling mengenal dapat memiliki kecenderungan untuk berbeda. Hadis
ini menjadi salah satu pengingat tentang pentingnya membangun hubungan dan
persaudaraan dengan sesama.
Selanjutnya, hadis ketiga mengajarkan
tentang mengokohkan persaudaraan. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar umat Islam
tidak saling membenci, iri hati, saling berpaling, maupun memutuskan hubungan.
Sebaliknya, umat Islam diperintahkan untuk menjadi hamba-hamba Allah yang
bersaudara.
Hadis keempat membahas tentang jihad dan
niat yang baik. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa setelah Fathu Makkah
tidak ada lagi hijrah, tetapi masih terdapat jihad dan niat yang baik. Di dalam
kitab, pembahasan ini juga dikaitkan dengan mencari ilmu dan menjaga diri dari
fitnah agama.
Kajian kemudian memasuki hadis kelima
tentang sihir ucapan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebagian ucapan memiliki
pengaruh yang begitu kuat seperti sihir. Karena itu, setiap orang perlu
berhati-hati dalam berbicara. Satu perkataan dapat membuat orang lain senang,
tetapi satu perkataan pula dapat melukai hati seseorang.
Hadis keenam mengingatkan tentang
pentingnya menyambung silaturahmi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang
ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung
hubungan dengan sanak familinya.
Kemudian dibahas hadis ketujuh mengenai menjenguk
orang sakit dan mengunjungi saudara karena Allah. Rasulullah ﷺ memberikan kabar
gembira bahwa orang yang melakukan amalan tersebut mendapatkan doa dari
malaikat dan balasan berupa tempat yang mulia di surga.
Pada hadis kedelapan, jamaah diajak untuk
melihat kembali arti kecukupan dalam kehidupan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa
seseorang yang berada dalam keadaan aman di rumahnya, sehat tubuhnya, dan
memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan telah memiliki dunia dan seluruh
isinya.
Hadis berikutnya mengingatkan agar
seseorang tidak mengusahakan sesuatu melalui jalan maksiat, karena cara yang
salah justru akan menjauhkan seseorang dari apa yang diharapkannya.
Pembahasan juga menyentuh tentang pendidikan
praktik, kelembutan dalam menjalankan agama, serta pentingnya memiliki rasa
malu. Pada hadis tentang rasa malu, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketika
seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, ia akan mudah melakukan apa saja yang
disukainya.
Berikutnya, jamaah diajak memahami
bagaimana mencari keberkahan dalam harta benda. Harta diibaratkan sebagai
sesuatu yang hijau dan manis. Jika diterima dengan hati yang lapang dan tidak
rakus, harta tersebut dapat membawa keberkahan. Sebaliknya, kerakusan justru
dapat menjadikan seseorang tidak pernah merasa cukup.
Pembahasan semakin dalam ketika sampai pada
hadis tentang karat hati. Hati manusia dapat mengalami “karat”, sebagaimana
besi. Salah satu cara untuk menjernihkannya adalah dengan membaca Al-Qur’an dan
mengingat kematian.
Selanjutnya, diingatkan pula bahwa ketika
manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini
menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang muslim tidak berhenti pada apa yang
ia lakukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga pada kebaikan yang terus
memberikan manfaat setelah ia meninggal dunia.
Pada hadis ketujuh belas, ditegaskan bahwa hati
dan amal merupakan pusat perhatian Allah SWT. Allah tidak melihat bentuk fisik
maupun harta seseorang, tetapi melihat hati dan amal perbuatannya.
Kemudian hadis kedelapan belas mengajarkan
untuk terus beramal. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai
Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya
sedikit.
Pesan tersebut kemudian diperkuat dengan
hadis kesembilan belas tentang lemah lembut dalam segala hal. Rasulullah ﷺ
menyampaikan bahwa Allah menyukai kelemahlembutan dalam seluruh urusan.
Menutup Kajian dengan Syukur
Kajian kemudian sampai pada hadis kedua
puluh tentang bersyukur. Rasulullah ﷺ bersabda:
Ø إِنَّ
اللهَ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas
nikmat-Nya pada hamba-Nya.”
Hadis ini mengajarkan bahwa rasa syukur
tidak hanya berhenti di dalam hati, tetapi juga dapat diwujudkan dengan
menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan.
Dari rangkaian hadis tersebut, kita
mendapatkan banyak pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:
meluruskan niat, menjaga persaudaraan, berhati-hati dalam berbicara, menyambung
silaturahmi, menjenguk orang sakit, menjaga hati, terus beramal, bersikap lemah
lembut, hingga mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan.
Kajian kemudian ditutup dengan qobiltu
ijazah, sebagai bentuk penerimaan dan komitmen untuk tidak hanya membaca dan
mendengarkan hadis, tetapi juga berusaha mengamalkannya dalam kehidupan.
Semoga pembelajaran dari Jala’ul Afkar
tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi amal yang hidup dalam
keseharian. Terlebih di bulan Rabiul Awal ini, semoga kecintaan kita kepada
Rasulullah ﷺ semakin bertambah, dibuktikan dengan semakin semangat mempelajari,
mengamalkan, dan menyebarkan sunnah beliau.
Qobiltu ijazah. Mari bersama-sama mengamalkan hadis yang telah dipelajari, khususnya hadis ke-20 tentang bersyukur. Semoga setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.